Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Banyak Dokter dan Suster Bunuh Diri, Fenomena Apa?
    Inspiring You

    Banyak Dokter dan Suster Bunuh Diri, Fenomena Apa?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman30 Juli 2023Updated:30 Juli 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Dokter biasanya dikaitkan dengan pekerjaan yang prestise. Pasalnya, untuk mendapatkan gelar dokter, dibutuhkan waktu pendidikan yang lama, biaya yang besar, dan kemampuan akademis yang tinggi demi bisa bertahan dan lulus. 

    Tidak hanya itu, pekerjaan dokter biasanya juga dikaitkan dengan penghasilan yang cukup besar. Tak jarang, banyak anak muda yang menginginkan pekerjaan ini.

    Namun, ada satu hal yang luput dari mata masyarakat terkait profesi dokter. Studi menemukan bahwa dokter dan perawat termasuk dalam kelompok orang yang paling rentan depresi dan bunuh diri. 


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT




    Foto: Ilustrasi dokter (REUTERS/TINGSHU WANG)

    Dikutip dari Al Jazeera, sebuah penelitian mengungkap bahwa dokter berpotensi dua hingga lima kali lebih besar melakukan bunuh diri dibandingkan masyarakat umum. Adapun dokter wanita dan dokter junior memiliki risiko bunuh diri paling besar.

    Di Inggris misalnya, data terbaru dari Kantor Statistik Nasional lokal mencatat ada 72 tenaga profesional medis (termasuk dokter, perawat, ahli terapi, dokter gigi, dan bidan) yang bunuh diri pada tahun 2020. Artinya, ada lebih dari satu tenaga medis yang melakukan bunuh diri per minggunya.

    Bunuh diri juga marak di kalangan perawat di mana ditemukan ada 360 percobaan bunuh diri pada tahun 2022. Adapun faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka bunuh diri ini adalah beban kerja yang sangat besar, intimidasi dalam budaya kerja yang hierarkis, kurang tidur, struktur pendukung yang buruk, dan sumber daya yang terbatas bagi karyawan yang mengarah pada kelelahan esktrem.

    Psikolog kesehatan kerja⁠ asal Inggris, Gail Kinman mengatakan selain faktor di atas, faktor bunuh diri dokter juga bisa disebabkan karena adanya depresi karena harapan pasien yang tidak bisa diwujudkan dokter. Dokter selalu dituntut untuk menyembuhkan pasien. Namun ketika dokter tidak bisa melakukannya, hal itu banyak dianggap sebagai tanda kelemahan dokter. Hal ini akan melahirkan depresi hingga penyakit mental serius yang tak dapat diobati.

    “Dokter dimaksudkan untuk melakukan penyembuhan, bukan menjadi orang yang menyerah pada penyakit. Anda hanya diharapkan untuk menghadapinya, dan jika Anda tidak bisa, itu adalah tanda kelemahan,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Minggu (30/7/2023).




    A COVID-19 patient receives treatment in the ICU of the Hospital del Mar, in Barcelona, Spain, Tuesday, Jan. 19, 2021. The unrelenting increase in COVID-19 infections in Spain following the holiday season is again straining hospitals, threatening the mental health of doctors and nurses who have been at the forefront of the pandemic for nearly a year. (AP Photo/Felipe Dana)Foto: AP/Felipe Dana
    A COVID-19 patient receives treatment in the ICU of the Hospital del Mar, in Barcelona, Spain, Tuesday, Jan. 19, 2021. The unrelenting increase in COVID-19 infections in Spain following the holiday season is again straining hospitals, threatening the mental health of doctors and nurses who have been at the forefront of the pandemic for nearly a year. (AP Photo/Felipe Dana)

    Fenomena ini diperparah dengan datangnya pandemi COVID-19, yang semakin memperburuk tekanan pada sistem dan tenaga perawatan kesehatan yang sudah kewalahan dan juga semakin kekurangan dana untuk fasilitas kesehatan.

    Dokter juga dibuat frustrasi dan tidak tega dengan penuhnya kamar rawat inap, sementara saat itu pasien kian membludak. Selain itu, stok alat medis yang berkurang juga membuat para dokter dibuat berpikir keras agar bagaimana stok yang tipis itu bisa melayani semua pasien.

    Hal ini jelas membuat para dokter dan tenaga medis harus melakukan pekerjaan di bawah tekanan besar. Belum lagi saat mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa seorang pasien.

    “Staf perawatan kesehatan akhirnya memikul harapan bahwa mereka harus mengorbankan diri mereka sendiri, kesehatan mereka dan kehidupan pribadi mereka untuk pasien mereka,” jelas Gail.

    “Kelelahan terjadi pada usia yang jauh lebih muda (di kalangan dokter) padahal hal itu biasa terjadi di kemudian hari dalam karier mereka. Mereka mungkin belum tentu mengenali gejalanya atau tahu bagaimana mendapatkan dukungan,” pungkas Gail.



    Artikel Selanjutnya


    Dokter Muda Curhat ke Menkes, 8 Kali Nggak Lulus Ujian STR…

    (hsy/hsy)


    Ide Sukses Inspirasi Sukses
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.