Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Portofolio
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Sering Lapar Bikin Umur Panjang, Ternyata Ini Penjelasannya
    Inspiring You

    Sering Lapar Bikin Umur Panjang, Ternyata Ini Penjelasannya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman2 Juni 2023Updated:2 Juni 2023Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Banyak yang mengeluhkan rasa lapar yang terhitung sering datang. Namun siapa sangka, rasa lapar yang datang tersebut bisa saja jadi pertanda panjang umur. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan hubungan antara rasa lapar dengan efek anti penuaan.

    Hasil riset itu sekaligus membuktikan dampak positif puasa berkala (intermittent fasting) terhadap kesehatan.

    Para peneliti dari University of Michigan menggelar penelitian tentang persepsi rasa lapar yang tak terpuaskan. Fisiologis Scott Pletcher menyatakan, hasil penelitian adalah bukti bahwa membatasi konsumsi memiliki dampak memperpanjang umur.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Kami telah memisahkannya dari segala macam cara lain yang pernah diteliti (terkait memperpanjang usia) dan bisa menyatakan bahwa itu semua tak dibutuhkan. Persepsi tidak cukup makan, sudah memadai,” kata Pletcher, dikutip Jumat (2/6/2023).

    Puasa berkala telah menjadi mode diet yang populer dalam beberapa tahun terakhir, meskipun pada titik ini bukti yang mendukung manfaatnya terbatas dan sebagian besar didasarkan pada penelitian pada hewan.

    Studi University of Michigan yang menggunakan media lalat buah (Drosophila melanogaster) dan hewan pengerat, menemukan bahwa pembatasan kalori dapat memperpanjang masa hidup dan berdampak positif pada kesehatan

    Namun, ini masih penelitin tahap awal, dan jauh lebih banyak penelitian diperlukan sebelum hasilnya dapat diperluas ke manusia, terutama karena beberapa penelitian telah menghasilkan hasil yang bertentangan, atau bahkan menyoroti potensi bahaya.

    Untuk mempelajari mekanisme molekuler puasa lebih lanjut, para peneliti di balik penyelidikan terbaru ini kembali beralih ke lalat buah.

    Di masa lalu, studi lalat buah telah membantu para ilmuwan mengidentifikasi banyak sinyal saraf untuk rasa lapar dan kenyang di otak. Makhluk-makhluk ini memiliki 75 persen gen terkait penyakit yang sama dengan manusia, dan metabolisme serta otak mereka memiliki kemiripan fungsi dengan mamalia.

    Asam amino rantai cabang (BCAA) adalah nutrisi penting yang tampaknya memicu rasa kenyang pada lalat saat dikonsumsi. Makan lebih banyak BCAA, oleh karena itu, mengurangi rasa lapar mereka.

    Untuk mengeksplorasi bagaimana hal ini dapat mempengaruhi penuaan, para peneliti membuat lalat buah tetap lapar dengan memberi mereka camilan rendah BCAA.

    Rasa lapar mereka diukur dengan seberapa banyak serangga makan dari prasmanan makanan berjam-jam setelah mengonsumsi makanan ringan.

    Lalat yang diberi makan camilan rendah BCAA memakan lebih banyak makanan di prasmanan. Mereka juga menargetkan makanan berprotein tinggi daripada makanan berkarbohidrat tinggi. Sebuah pertanda bahwa lalat didorong oleh rasa lapar yang berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan.

    Ketika tim secara langsung mengaktifkan neuron pada lalat buah yang memicu respons lapar, mereka menemukan bahwa lalat yang distimulasi rasa lapar ini juga hidup lebih lama.

    “Jadi, status motivasi kelaparan itu sendiri, daripada ketersediaan atau karakteristik energetik dari diet, mungkin memperlambat penuaan,” tulis Pletcher dan rekannya,

    Eksperimen lebih lanjut menunjukkan menurunkan BCAA dalam makanan lalat juga menyebabkan neuron kelaparan mereka membentuk protein pendukung yang dimodifikasi yang disebut histones, yang berikatan dengan DNA dan membantu mengatur aktivitas gen.

    Para peneliti berpikir histon yang dimodifikasi ini mungkin merupakan hubungan antara pola makan, respons lapar, dan penuaan. Menariknya, penelitian sebelumnya telah mengaitkan peningkatan pasokan histone dengan umur yang lebih panjang.

    Dari temuan tersebut, para peneliti berpikir kelaparan kronis mungkin merupakan respons adaptif, dimediasi oleh modifikasi protein histon di saraf diskrit yang dapat memperlambat penuaan.

    Temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa diet rendah BCAA baik untuk kesehatan. Mungkin mereka memberi tubuh nutrisi yang cukup, sedangkan tidak sepenuhnya memberikan sinyal lapar di otak.

    Hasil ini tentu membutuhkan lebih banyak pengujian dan studi lanjutan. Sebab satu studi tentang lalat buah tidak akan cukup.. Untuk saat ini, para peneliti tertarik untuk mengeksplorasi apakah kesehatan lalat buah terkait dengan makan untuk kesenangan dan kebutuhan.



    Artikel Selanjutnya


    Rahasia Panjang Umur dari Nenek Berusia 122 Tahun

    (dce)


    Never Give Up Selalu Semangat
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.