Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Bayi Prematur Lebih Berisiko Mengidap Diabetes, Benarkah?
    Inspiring You

    Bayi Prematur Lebih Berisiko Mengidap Diabetes, Benarkah?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman11 Mei 2023Updated:11 Mei 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Sejumlah masyarakat beranggapan bahwa bayi yang lahir prematur alias lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu atau lebih awal dari hari perkiraan lahir (HPL) lebih berisiko mengidap diabetes. Benarkah demikian?

    Dokter spesialis anak RSIA Grand Family dan RSIA Family, dr. Andry Setiawan mengatakan bahwa bayi kelahiran prematur umumnya berisiko mengalami gangguan kesehatan, salah satunya diabetes. Sebab, organ tubuh bayi prematur masih belum sempurna saat lahir.

    “Ada teori yang mengatakan, seperti itu (bayi prematur lebih berisiko terjangkit diabetes). Prinsipnya, bayi yang lahir prematur berkaitan erat dengan angka kejadian sindrom metabolik yang lebih tinggi,” papar dr. Andry dalam acara temu media di RSIA Grand Family, Jakarta, Rabu (10/5/2023).


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Sindrom metabolik itu, ya, diabetes melitus dan obesitas. Bayi prematur ukuran tubuhnya lebih kecil, tapi risiko obesitasnya lebih besar karena kita menargetkan berat badannya naik lebih cepat,” imbuhnya.

    Andry menjelaskan bahwa bayi kelahiran prematur harus benar-benar dijaga pertumbuhan badannya. Namun, pertumbuhan tersebut harus tetap terkontrol agar tidak berujung obesitas dan diabetes.

    “Bayi prematur yang lahir kecil, kan, kita ingin berat badan naik lebih cepat. Itu ada yang namanya adiposity rebound. Adiposity rebound itu yang bisa membuat sindrom metaboliknya lebih tinggi,” jelas dr. Andry.

    Menurut studi yang dipublikasikan Pubmed Central, adiposity rebound mengacu pada kondisi peningkatan indeks massa tubuh (IMT) yang mengikuti IMT minimum pada anak usia dini. Dalam beberapa kasus adiposity rebound yang lebih cepat, risiko obesitas dan sindrom metabolik dapat semakin meningkat.

    Diketahui, beberapa waktu belakangan ini kasus diabetes pada anak mengalami peningkatan. Hingga Januari 2023, tercatat sebanyak 1.645 kasus diabetes pada anak.

    Sebanyak 90 persen kasus di antaranya adalah diabetes tipe 1 yang merupakan penyakit bawaan lahir akibat kondisi autoimun. Sementara itu, sepuluh persen lainnya merupakan diabetes tipe 2 yang dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, termasuk pada bayi prematur yang rentan terkena diabetes.



    Artikel Selanjutnya


    Makin Banyak Anak Kecil Kena Diabetes, Apa Bisa Disembuhkan?

    (hsy/hsy)


    Berani sukses Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.