Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Bagaimana Cara Berpuasa di Negara yang ‘Tidak Ada Maghrib’?
    Inspiring You

    Bagaimana Cara Berpuasa di Negara yang ‘Tidak Ada Maghrib’?

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman3 April 2023Updated:3 April 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Menjalankan ibadah puasa saat Ramadan adalah salah satu kewajiban bagi setiap umat Muslim yang memenuhi syarat dan mampu menjalankannya. Adapun waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar sampai waktu maghrib.

    Namun, ada sejumlah negara yang memiliki durasi berpuasa lebih lama karena mereka mengalami waktu siang lebih panjang, terutama ketika memasuki musim panas.

    Sejumlah negara yang terletak di sekitar sisi utara Lingkaran Arktik, seperti Norwegia, Swedia, Islandia dan Finlandia, mengalami sinar matahari hingga 23 jam sehari saat puncak musim panas, yakni mulai pertengahan April hingga Juli. Karena itu, ada istilah ‘midnight sun’ di wilayah itu karena penduduk benar-benar masih bisa melihat matahari meski jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. 


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dengan demikian, nyaris tidak ada waktu maghrib di beberapa negara karena matahari tidak terbenam sepenuhnya di bawah ufuk.

    Lantas, bagaimana jika bulan Ramadan jatuh pada puncak musim panas? Bagaimana umat Muslim di negara tersebut berpuasa?

    Para ulama sepakat bahwa terdapat kelonggaran syariat bagi umat Muslim yang tinggal di negara dengan fenomena alam yang ekstrem. Muslim yang tinggal di negara-negara dengan matahari tidak terbenam atau hanya turun sesaat dapat mengikuti salah satu dari tiga solusi yang ditawarkan oleh beberapa ulama.

    Pilihan dari ketiga solusi tersebut adalah berbuka puasa mengikuti waktu matahari terbenam di negara terdekat yang tidak mendapat matahari secara terus-terusan, mengikuti waktu berbuka di negara mayoritas Muslim terdekat, atau mengikuti waktu Makkah alias Arab Saudi.

    Namun, mereka diperbolehkan untuk berpuasa mengikuti waktu setempat di mana mereka tinggal bila sanggup.

    Direktur eksekutif Yayasan Islam Islandia, Karim Askari, mengatakan bahwa dua masjid di ibu kota Islandia sepakat untuk mengikuti waktu fajar dan senja setempat untuk memutuskan kapan mereka harus berbuka puasa. Namun, ada juga masjid dan organisasi lain yang memilih untuk mengikuti waktu berbuka negara-negara Eropa lainnya.

    “Mereka bisa memilih apa yang mereka inginkan. Kami memiliki kebebasan dalam hubungan masyarakat kami di sini,” kata Askari.

    Untuk diketahui, pada Ramadan 2018 lalu, umat Muslim di Islandia harus berpuasa rata-rata selama 21 jam 51 menit. Ini karena Ramadan pada tahun itu jatuh pada puncak musim panas. 

    Beruntung, pada 2023 ini, Ramadan jatuh pada awal musim panas, sehingga durasi berpuasa menjadi lebih pendek, yakni hingga 17 jam sehari. Meski demikian, tentu saja durasi itu tetap lebih panjang dibanding umat Muslim di Indonesia yang hanya berpuasa selama 13 jam sehari. 



    Artikel Selanjutnya


    Tips & Waktu Olahraga Terbaik saat Puasa Ramadan, Catat Ya!

    (hsy/hsy)


    Ide Sukses Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.