Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»3 Fakta Oralit yang Viral Disebut Bisa Jadi Doping Puasa
    Inspiring You

    3 Fakta Oralit yang Viral Disebut Bisa Jadi Doping Puasa

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman29 Maret 2023Updated:29 Maret 2023Tidak ada komentar4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, Dexpert.co.id – Oralit adalah obat untuk menggantikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang akibat muntah, demam, hingga diare. Sebagai pengganti cairan dan elektrolit, oralit mengandung campuran natrium, kalium, gula, dan elektrolit.

    Namun, memasuki bulan Ramadan, ada tren kesehatan baru di mana sejumlah masyarakat menyalahgunakan fungsi oralit. Beberapa waktu belakangan ini, sejumlah warganet mengaku bahwa mereka menggunakan oralit sebagai ‘doping’ agar tubuh tidak merasa haus dan lemas selama berpuasa.

    Penggunaan oralit untuk mencegah dehidrasi dan fisik lemah selama berpuasa pun sontak mengundang kontra dari berbagai pihak. Bahkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ikut buka suara dengan mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying oralit.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    “Tidak perlu panic buying, ya. Tidak perlu stok oralit karena peruntukan oralit untuk orang yang diare, mual, dan muntah yang artinya terjadi dehidrasi. Pada orang berpuasa tidak ada dehidrasi,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (29/3/2023).

    Lantas, mengapa masyarakat tidak perlu stok oralit untuk berpuasa? Berikut 3 fakta penggunaan oralit.

    1. Manfaat Oralit

    Oralit adalah obat yang digunakan untuk mengatasi dehidrasi akibat diare, muntah, hingga flu perut. Maka dari itu, meskipun obat bebas, oralit tidak boleh digunakan sembarangan.

    “Oralit ini pertolongan pertama, misalnya untuk pasien gastroenteritis (flu perut) sebelum masuk rumah sakit. Penting mengatasi kemungkinan dehidrasinya dulu, baru kemudian mengatasi penyebabnya,” ujar Konsultan Hematologi dan Onkologi, Prof. Zubairi Djoerban melalui Twitter pribadinya (@ProfesorZubairi), dikutip Rabu (29/3/2023).

    Prof. Zubairi mengatakan, oralit utamanya dikonsumsi oleh pasien diare karena selain kehilangan cairan, penderita diare juga kehilangan elektrolit yang tidak baik untuk kesehatan. Sebagai informasi, cairan elektrolit berperan untuk menjaga kinerja saraf dan otot, menjaga keseimbangan asam basa, dan menjaga hidrasi tubuh.

    2. Oralit Bisa Cegah Dehidrasi saat Puasa, Mitos atau Fakta?

    Meskipun bisa menggantikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang akibat sejumlah kondisi medis, oralit bukan berarti dapat dikonsumsi untuk mencegah dehidrasi selama berpuasa.

    “Informasi itu jelas tidak betul, ya. Sifatnya Oralit adalah oral rehydration (larutan rehidrasi), ya. Jadi kalau kita mengalami dehidrasi maka kita mengonsumsi oralit, tapi bukan pencegah. Itu yang harus diperhatikan,” tegas dokter spesialis penyakit dalam, Prof. Dr dr. Ari Fahrial Syam kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/3/2023).

    Prof. Ari mengatakan bahwa Oralit mengandung garam dan gula. Bila dikonsumsi secara berlebihan dan tidak sesuai dengan ketentuan maka Oralit dapat berisiko tinggi, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi atau tekanan darah tinggi.

    “Jadi sekali lagi tidak betul informasi bahwa Oralit bisa mencegah dehidrasi,” tegas Prof. Ari.

    Serupa dengan Prof. Ari, Prof. Zubairi pun mengatakan bahwa kadar natrium dan kalium seseorang saat puasa akan tetap normal selama tidak mengalami muntaber. Maka dari itu, seseorang yang hendak melaksanakan puasa tidak disarankan untuk minum oralit.

    “Tidak [disarankan]. Lemas dan ngantuk, ya, biasa. Kita lihat saja pemain bola Muslim yang di Eropa. Mereka tetap bermain dan energik meski puasa tanpa oralit,” sebut Prof. Zubairi.

    “Jadi tidak perlu takut, ya, untuk puasa meski tanpa ‘doping’ oralit,” lanjutnya.

    3. Efek Samping Oralit

    Prof. Zubairi mengungkapkan bahwa terlalu banyak mengonsumsi oralit, terlebih selama satu bulan sepanjang bulan Ramadan, efek samping yang kemungkinan besar akan muncul adalah hipernatremia atau hiperkalemia.

    Hiperkalemia adalah kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu tinggi sehingga dapat memicu terjadinya ventrikel fibrilasi yang memicu jantung bagian bawah berdetak cepat tetapi tidak memompa darah. Hiperkalemia yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan risiko henti jantung, kelumpuhan, hingga kematian.

    “[Kemungkinan terburuk hiperkalemia] bisa menyebabkan hemolisis. Sel darah merahnya hancur. Bisa juga rhabdomyolysis, ototnya rusak. Bahkan bisa menyebabkan penyakit ginjal dan Lupus memburuk,” papar Prof. Zubairi.

    Sementara itu, hipernatremia adalah kondisi ketika kadar natrium dalam darah di atas batas normal sehingga dapat meningkatkan risiko gangguan otot hingga kejang.

    “Berbahaya untuk tubuh? Ya, kalau natrium natrium terlalu tinggi di dalam darah, ya bisa bahaya. Mula-mula kehausan, lelah, gangguan otot, bisa juga sampai kejang. Ini serius,” jelas Prof. Zubairi.


    Artikel Selanjutnya


    10 Tips Ajarkan Anak Puasa Ramadan untuk Pertama Kali

    (hsy/hsy)


    Inspirasi Sukses Mind your business
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.