Close Menu
Dexpert
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    • Jasa Website
    • Referensi
    • Cek Palgiarism
    • Update Konten
    • Blog
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Dexpert
    Home»Inspiring You»Banyak Istri Pejabat Suka Flexing, Psikolog Jelaskan Sebabnya
    Inspiring You

    Banyak Istri Pejabat Suka Flexing, Psikolog Jelaskan Sebabnya

    Fitriana HermanBy Fitriana Herman20 Maret 2023Updated:21 Maret 2023Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena istri dan anak-anak pejabat yang gemar pamer kekayaan alias flexing tengah menjadi sorotan masyarakat. Akibat hal ini, banyak pelaku flexing yang akhirnya menutup akun media sosial mereka secara permanen karena takut akan konsekuensi dari perilaku tersebut. 

    Budaya pamer kekayaan sebenarnya sudah ada sejak dahulu, namun sosial media membuat perilaku ini semakin terlihat. Unggahan sosial media pelaku flexing biasanya dipenuhi barang-barang dari merek ternama, mulai dari tas Hermes, mobil sport, hingga liburan mewah di kapal pesiar. 

    Lalu, apa sih yang membuat seseorang gemar pamer kekayaan?


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO RESUME CONTENT

    Dalam ilmu psikologi, pamer merupakan bentuk perilaku narsisme. Faktor utama yang mendorong perilaku ini adalah perasaan insecure. 

    Psikolog klinis Mary Kowalchyk dari New York University mengatakan bahwa “narsisme dipahami sebagai adaptasi kompensasi untuk mengatasi dan menutupi harga diri yang rendah.”

    “Orang narsis merasa insecure, dan mereka mengatasi perasaan ini dengan flexing. Perilaku pamer membuat orang lain kurang menyukai mereka dalam jangka panjang, ini membuat pelaku flexing semakin memperparah rasa insecure mereka sehingga ini menjadi lingkaran setan perilaku tersebut,” kata Kowalchyk.

    Meski demikian, secara naluriah, manusia senang memamerkan pencapaiannya di depan orang lain. Sadar atau tidak, banyak dari kita yang pernah flexing. Secara kolektif, perilaku ini membuat orang lain merasa insecure, dan akhirnya ikut-ikutan flexing. 

    Orang kaya yang bermoral tak suka flexing

    Sementara itu, Rachel Sherman, seorang profesor sosiologi di New School for Social Research, New York, telah mempelajari kebiasaan belanja di kalangan orang kaya. Riset itu menemukan bahwa banyak di antara mereka yang sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

    Dalam bukunya, Uneasy Street: The Anxieties of Affluence, Sherman mewawancarai 50 orang kaya di New York. Ternyata banyak di antara mereka yang menjalani hidup hemat dan membelanjakan uang dengan “normal.”

    “Orang kaya yang saya teliti sangat hati-hati dengan implikasi moral dari privilege yang mereka dapatkan,” kata Sherman, yang dikutip Vice.

    Salah satu responden Sherman mengaku sengaja melepas label di roti seharga US$6 atau sekitar Rp85 ribu (kurs Rp14.310/US$) yang dia beli di toko kelontong agar tak dilihat oleh babysitter mereka. Ini dilakukan karena dia merasa tidak nyaman jika ada gap besar antara keluarganya sendiri dan sang pengasuh.

    “Kebiasaan hemat adalah salah satu cara kita menilai apakah orang kaya itu baik secara moral atau buruk secara moral.”

    (hsy/hsy)


    Berani sukses Smart your life
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Fitriana Herman

    Related Posts

    Jangan Sampai Hambat Anak Jadi Sukses, Orang Tua Haram Lakukan Ini

    25 Januari 2025

    Jangan Keliru! Nama Mobil Kijang Itu Singkatan, Ini Kepanjangannya

    25 Januari 2025

    6 Tempat Wisata Legend Ini Dulu Ramai, Kini Sepi Bak Kuburan

    25 Januari 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Tim Kerja
    • Kontak
    • S & K
    • Privasi
    © 2026 - Dexpert, inc.

    PT Dexpert Corp Indonesia

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.